Sejarah Kodifikasi Alquran

Sejarah Kodifikasi Alquran - Alquran merupakan pedoman hidup kaum muslimin sekaligus mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Alquran sebagai kitab suci yang memuat firman-firman ilahi tentu harus bersifat absolut dan tak dapat diubah. Sejarah mencatat, berkali-kali usaha manusia dalam merubah dan menandingi isi Alquran selalu saja dapat digagalkan. Perubahan sekecil apapun dalam Alquran akan sangat mudah ditemukan oleh umat muslim melalui lisan ulama dan para penghafal Alquran. Hal ini juga menguatkan kedudukan Alquran sebagai mukjizat dan wahyu dari Allah SWT.

Secara historis, perjalanan pembukuan Alquran memang tidak sekompleks pembukuan hadis. Namun bukan berarti kodifikasi Alquran tidak menarik untuk dikaji. Alquran sebagai kitab suci yang telah berusia 14 abad lebih tentu mempunyai kisah tersendiri dan menarik untuk dibahas. Alquran pada masa kenabian berbeda dengan Alquran yang kita kenal pada hari ini. Perbedaan ini hanyalah sebatas perbedaan dari segi bentuk dan penulisan semata namun keabsahannya juga tetap terjaga.

Dewasa ini dapat kita temukan segerombolan manusia mencoba untuk mencari titik kesalahan dalam Alquran. Mereka berusaha merusak keyakinan umat muslim akan keabsahan dan kemukjizatan Alquran. Objek mereka adalah umat muslim dari kalangan awam dan kurang mengerti tentang ilmu agama. Salah satu senjata mereka dengan mempropagandakan perubahan Alquran dari masa ke masa. Mereka juga membuat stigma bahwa isi dan kandungan Alquran sudah tercemar oleh perkataan manusia dan tidak lagi murni berisikan wahyu ilahi.

Berangkat dari fenomena ini, penulis mencoba menuliskan kembali sejarah dari kodifikasi Alquran guna menjawab kebutuhan masyarakat di kemudian hari. Wallahu a’lamu bishawab.


Apa itu kodifikasi Alquran?

Alquran merupakan kitab suci umat islam yang berisikan firman Alllah SWT. Alquran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril bukan berupa buku yang tersusun rapi, namun diturunkan secara berangsur-angsur dengan metode talqin (metode yang mana Jibril membacakan Alquran kepada rasul dan rasulpun mengulang apa yang dibacakan Jibril tadi). Sehingga, ayat Alquran yang turun sesuai dengan kebutuhan syariat pada saat itu dapat dihafal dan disampaikan Rasulullah kepada khalayak ramai. Berangkat dari hal ini, maka terjadilah penulisan Alquran oleh para sahabat secara acak dan tidak terhimpun dalam satu kesatuan.

Pada masa kenabian, hal ini bukan masalah yang besar karena masyarakat arab khususnya Bani Quraisy memiliki kelebihan berupa hafalan yang kuat. Hal ini memungkinkan mereka untuk menghafal Alquran dengan mudah sebagai bentuk penjagaan terhadap wahyu ilahi tersebut. Namun pada masa setelah kenabian, terjadilah peperangan yang menyebabkan banyak dari para penghafal Alquran gugur dalam medan pertempuran. Maka dari itu, dibutuhkanlah kodifikasi Alquran guna menjaga Alquran itu sendiri.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kodifikasi memiliki arti himpunan berbagai peraturan menjadi undang-undang; hal penyusun kitab perundang-undangan. Jika kata ini disematkan kepada Alquran, maka akan membentuk suatu istilah dalam mengumpulkan dan menata Alquran.

Mengumpulkan dan menata Alquran bukanlah perihal mudah seperti membalikkan telapak tangan. Alquran sebagai kitab suci yang berisikan firman ilahi harus memiliki sifat absolut dan harus terjaga keabsahan dan keautentikannya. Alquran yang kita saksikan sekarang merupakan hasil dari perjuangan dan ikhtiar para pendahulu kita semenjak generasi salafusshaleh. Sejarah panjang kodifikasi Alquran tentu memberikan pelajaran berharga tentang kesungguhan dan keikhlasan para ulama dalam menjaga isi dan kandungan Alquran. Berkat kesungguhan tadi dapat dipastikan Alquran yang ada pada saat ini sesuai dengan apa yang diterima oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka tak ada alasan bagi kita sebagai penuntut ilmu untuk tidak giat dalam mendalami Alquran yang mulia ini.

Sejarah Kodifikasi Alquran dari Masa ke Masa

Dalam sejarah kodifikasi Alquran setidaknya kita dapat mengelompokkannya kepada empat periode berikut:

1. Alquran pada masa Rasulullah SAW

Pada periode ini nabi memerintahkan kepada beberapa sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan wahyu (Alquran). Sebagian sahabat lain pun juga menulis Alquran secara personal tanpa diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Mereka menuliskan Alquran di atas pelepah kurma, tulang belulang, batu, kain dan sebagainya. Hal ini menunjukkan betapa susahnya alat tulis pada masa itu sehingga menghafal Alquran lebih mudah ketimbang menuliskannya.

Alquran mulai ditulis setelah terjadinya hijrah ke kota Yastrib atau Madinah yang kita kenal sekarang. Sedangkan pada periode makkah belum ada perintah dari nabi SAW untuk menulis wahyu ilahi tersebut. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya gerak dakwah islam pada saat itu. Pada periode nabi ini belum ada kebutuhan untuk mengumpulkan Alquran dalam satu kesatuan. Hal ini terjadi karena wahyu akan terus bertambah dan terkadang sebagian wahyu menghapus wahyu lain yang turun sebelumnya sebagaimana yang kita kenal dengan istilah nasikh wa mansukh dalam ilmu ‘ulumul qur’an. Imam Azzarkasyi berkata “tidak ditulisnya Alquran dalam bentuk mushaf pada masa Rasulullah SAW dikarenakan Alquran akan terus berubah. Hal ini menyebabkan terlambatnya kepenulisan Alquran hingga berakhirnya wahyu dengan wafatnya baginda nabi SAW” (Mabahis fi ulumil Qur’an. Hal 124).

2. Alquran pada masa Khalifah Abu Bakar

Abu Bakar merupakan khalifah pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pada masa beliau terjadilah peperangan yamamah guna menumpas orang-orang yang murtad pasca wafatnya Rasulullah SAW. Perang ini terjadi pada tahun 12 hijriyah yang mengakibatkan banyaknya para penghafal Alquran gugur dalam medan pertempuran. Hal ini membuat kekhawatiran dalam diri Umar bin Khattab dan beliau menyarankan kepada Abu Bakar sebagai khalifah pada saat itu untuk mengumpulkan tulisan-tulisan Alquran. Pada awalnya khalifah Abu Bakar menolak usulan tersebut karena hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun karena kesungguhan umar untuk meyakinkan Abu Bakar bahwa hal ini adalah hal yang baik dan benar, Allah melunakkan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut. Abu Bakar akhirnya menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan tulisan-tulisn Alquran yang ada pada para sahabat.

Zaid bin Tsabit adalah seorang sahabat yang terkenal dengan ketekunan dan kehati-hatian. Beliau juga salah seorang sahabat yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah SAW untuk menulis wahyu dari Allah SWT. Sebagai seorang yang ditunjuk oleh Abu Bakar, Zaid bin Tsabit pada awalnya menolak permintaan beliau. Namun, Allah SWT melunakkan hati Zaid bin Tsabit yang kemudian menerima permintaan khalifah tersebut. Dengan setujunya Zaid bin Tsabit maka dimulailah pengumpulan tulisan-tulisan Alquran yang ada pada masa para sahabat. Beliau menjalankan amanah ini dengan penuh kehati-hatian agar tidak terjadi pencampuran apa yang bukan termasuk dari ayat Alquran. Zaid bin Tsabit juga tidak memasukkan ayat-ayat yang telah dinasakh (hapus) kedalam Alquran yang dikumpulkan ini. Tak sampai disitu, Zaid bin Tsabit mensyaratkan adanya dua saksi tatkala menyerahkan tulisan Alquran untuk dikumpulkan. Para ulama berbeda pendapat mengenai dua orang saksi ini:

a) Pendapat Ibnu Hajar : maksud dari adanya dua saksi disini adalah hafalan dan tulisan.

b) Pendapat Imam Assakhawi : maksud dari adanya dua saksi disini adalah dua orang saksi yang menyaksikan bahwa tulisan Alquran ini benar-benar ditulis dihadapan Rasulullah SAW.

Dari dua pendapat ini, penulis belum menemukan mana pendapat yang lebih kuat. Namun dari informasi yang dapat penulis himpun, penulis lebih condong dengan pendapat kedua karena penulis menemukan nash yang berbunyi:

عن اللیث بن سعید قال : أول من جمع القرأن أبو بكر و كتبه زید و كان الناس یأتون زید بن ثابت و كان لا یكتب أیة إلا بشاھدي عدل وأن أخر سورة براءة لم توجد إلا مع خزیمة بن ثابت فقال أكتبوھا فإن رسول لله جعل شھادته بشھادة رجلین فكتب وإن عمر أتى بأیة الرجم فلم یكتبھا لأنه كان وحده

Artinya: Dari Laits bin Said dia berkata : orang pertama yang mengumpulkan Alquran adalah Abu Bakr dan ditulis oleh Zaid. Dan orang-orang pada saat itu mendatangi Zaid bin Tsabit. Adapun Zaid tidak menulis ayat Alquran kecuali adanya dua orang saksi yang adil (terpercaya). Dan sesungguhnya tulisan akhir surat at-Taubah tidak ditemukan kecuali pada Khuzaimah bin Tsabit. Seseorang berkata “tulislah itu karena sesungguhnya Rasulullah SAW telah menjadikan kesaksian Khuzaimah layaknya seperti saksi dua orang saksi”, maka ditulislah ayat itu. Dan sesungguhnya Umar datang membawa ayat rajm namun tidak ditulis kereka dia hanya sendiri (Al-itqan hal 131).

Pada periode ini, Alquran yang pada awalnya tersebar di berbagai media tulis dikumpulkan dan disalin dalam bentuk shuhuf (lembaran) yang berasal dari pelepah kurma dan disimpan oleh khalifah Abu Bakr. Pada periode ini juga Alquran masih menghimpun tujuh ahruf(bahasa).

3. Alquran pada masa Usman bin Affan

Usman bin Affan merupakan khalifah ke-tiga setelah Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan, wilayah kaum muslimin telah luas tersebar hingga benua Afrika. Dengan cakupan wilayah yang amat luas ini tentu akan menghasilkan problem baru yang salah-satunya berkenaan dengan Alquran alkarim.

Alquran diturunkan Allah dalam bentuk tujuh ahruf yang semuanya diajarkan oleh nabi kepada para sahabat sesuai dengan apa yang lebih mudah oleh mereka. Ini tentu bukanlah sebuah masalah karena mereka betul-betul memahami kondisi saat itu. Namun tidak pada masa khalifah Usman bin Affan. Banyak kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin dan pada masing-masing kota diutuslah seorang ulama untuk mengajarkan islam dan Alquran kepada penduduk kota tersebut. Alquran yang mereka ajarkan tentu adalah Alquran dengan ahruf yang mudah bagi masing-masing utusan tersebut. Hal inilah yang menyebabkan perselihan hingga salah menyalahkan bahkan saling kafir mengkafirkan antar sesama muslim. Ini tentu merupakan persoalan yang besar mengingat perbedaan ini dapat berimbas kepada perkembangan dakwah islam.

Seorang muslim yang bernama Huzaifah bin Yaman melihat suatu kaum bertengkar mengenai kebenaran Alquran yang mereka pelajari. Mereka saling membanggakan dan membenarkan Alquran mereka masing-masing dan menyalahkan bahkan mengkafirkan orang yang berbeda dengan mereka. Huzaifah lalu mengadukan hal ini kepada khalifah Usman. Kemudian Usman mengambil Alquran yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakr yang pada saat itu disimpan oleh Hafsah dan membentuk panitia untuk membukukan Alquran dalam satu mushaf. Usman menunjuk Zaid bin Sabit, Abdullah bin Zubair, Saai bin Ash dan Abdurrahman bin Haris sebagai panitia pembukuan Alquran. Usman berpesan kepada mereka untuk menulis Alquran dengan satu ahruf yaitu Quraisy karena Alquran turun pertama kali dengan ahruf Quraisy. Setelah dibukukannya Alquran maka Usman memerintahkan kepada para sahabat yang masih mempunyai tulisan Alquran yang berbeda dengan Alquran Usman tadi untuk dibakar. Kebijakan Usman ini disetujui oleh seluruh sahabat tanpa pertentangan dan mereka membakar tulisan Alquran yang ada pada tangan mereka. Alquran Usmani inilah wujud Alquran saat ini.

4. Alquran pada masa setelah Usman bin Affan

Seperti yang telah dijelaskan di atas. Bahwasanya Alquran telah dibukukan dan dibakukan dalam satu mushaf namun belum ada penambahan baris, harakat, titik, fashal(kelompok ayat) dan sebagainya. Pada masa setelah khulafaurrasyidin(istilah untuk empat khalifah setelah Rasulullah SAW) ini, Islam sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tak sebatas kaum arab, Islampun merabah ke berbagai suku dan etnis. Permasalahan barupun muncul, mereka bukanlah orang yang fasih dalam berbahasa arab. Maka dimulailah pemberian harakat yang pada saat itu berupa titik untuk memudahkan kaum non-arab membaca Alquran.

Banyak pendapat yang berkenaan dengan tokoh dibalik pemberian harakat Alquran ini. Diantara tokoh tersebut, Abu Aswad Adduali adalah nama yang masyhur sebagai tokoh pemberian harakat Alquran ini. Abu Aswad Adduali memberikan titik satu di atas huruf sebagai tanda baca fathah, titik satu dibawah sebagai tanda baca kasrah, dan dua titik untuk tanda baca sukun.

Pada masa setelah itu, dilakukan penyempurnaan kembali seperti mengubah harakat (tanda baca) yang berbentuk titik menjadi garis panjang dibawah atau diatas dan huruf waw kecil sebagai tanda baca dhammah dan memberi tanda baca tanwin. Kemudian dimasa setelah itu diberikan penanda ayat, surat, waqaf dan lain-lain hingga seperti Alquran yang ada pada masa sekarang.

Penyempurnaan penulisan Alquran ini sudah tentu menuai kritik oleh ulama pada zaman tersebut. Namun seiring dengan berjalannya waktu hal ini diterima oleh semua kalangan dan bahkan Imam Nawawi menyatakan bahwa penambahan harakat dan titik adalah hal yang mustahab (sunnah).

Seputar Penertiban Urutan Ayat dan Surat dalam Alquran

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwasanya Alquran diturunkan  Allah tidak secara berurutan melainkan turun sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat pada saat itu. Namun penertiban ayat dan surat dalam Alquran menurut jumhur ulama merupakan hal tauqifi (ditentukan oleh Allah dan rasulNya, lawan dari ijtihadi) yang langsung diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dan kemudian diajarkan kepada para sahabat.

a. Penertiban Urutan Ayat

Mengenai penertiban urutan ayat, ulama sepakat bahwa ini merupakan hal yang bersifat tauqifi. Hal ini sesuai dengan hadits dari Usman bin Affan yang menceritakan bahwa Jibril mendatangi nabi dan menyuruh nabi meletakkan ayat di tempat semestinya(Mabahis fi ulumil Qur’an hal 139). Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat yang juga menceritakan bahwa malaikat jibril selalu mendatangi Rasulullah SAW pada malam bulan ramadhan dan mengulang hafalan nabi SAW.

عن عثمان بن أبي العاص قال كنت جالسا عند رسول لله إذ شخص ببصره ثم صوبه ثم قال أتاني جبریل فأمرني أن أضع ھذه الأیة ھذا الموضع من ھذه السورة

Artinya: dari Usman bin Abil ’Ash berkata aku sedang duduk dengan Rasulullah SAW tiba-tiba tatapan Rasulullah SAW menjadi kosong setelah itu kembali normal, kemudian Rosulullah SAW berkata; aku didatangi jibril dan menyuruhku untuk meletakkan ayat ini di tempat ini pada surat ini.

Hadis ini menjelaskan secara gamblang bahwa penyusunan ayat dalam Alquran adalah perihal tauqifi bukan ijtihadi.

إن الله یأمر بالعدل والإحسان... (النحل : 90)

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..” (Qs.An-Nahl: 90)

b. Penertiban Urutan Surat

Mengenai penertiban urutan surat, ulama berbeda pendapat apakah urutan surat ini tauqifi atau ijtihadi, sebagai berikut:

1. Tauqifi

Ini adalah pendapat jumhur ulama. Mereka berpendapat bahwa penyusunan surat dalam Alquran telah ditentukan oleh nabi SAW. Hal ini berlandaskan kepada khabar sahabat yang menjelaskan bahwasanya nabi SAW membaca beberapa surat dalam shalatnya. Hal ini juga diperkuat dengan hadis nabi:

كان رسول لله یقول ضعوا أیة كذا في موضع كذا

Artinya: Rasulluah SAW pernah berkata “letakkan ayat ini di tempat ini”.

2. Ijtihadi

Beberapa ulama berpendapat bahwa penyusunan surat berdasarkan ijtihad ulama. Mereka berdalil bahwasanya pada mushaf Ali surat tersusun dengan urutan al-Alaq, al-Mudatsir, Nun, al-Qalam dan seterusnya. Sedangkan pada mushaf Ibnu Mas’ud tersusun dengan urutan al-Baqarah, an-Nisa, Ali-Imran pada mushaf Ubai didahului dengan al-Fatihah. Namun hal ini terbantahkan karena mushaf-mushaf itu adalah mushaf pribadi atau tulisan untuk konsumsi pribadi sahabat dan bukan untuk pembelajaran.

3. Tauqifi dan ijtihadi

Pendapat ketiga ini berusaha menggabungkan dua pendapat di atas. Namun dalil yang mereka gunakan lebih banyak ke tauqifi dan dalil ijtihadi mereka juga terbantahkan. Imam Azzarkasyi mengatakan bahwasanya perbedaan ini hanya seputar pada lafaz saja. Orang yang mengatakan bahwa penyusunan surat adalah ijtihadi karena tidak ditemukan dalam perkataan nabi secara jelas yang menyusun ayat dalam al-Qur’an, melainkan adalah ijtihad para sahabat dari isyarat yang diberikan oleh nabi. Begitu juga sebaliknya, orang yang mengatakan tauqifi berpijak kepada isyarat yang diberikan nabi SAW bukan dengan pernyataan langsung dari nabi SAW(Ulumul Qur’an al-Karim, muqarrar tahun dua, hal. 103).

c. Pemberian Nama Surat dan Tanda Pemisah Ayat

Alquran memiliki 114 surat dan lebih dari 6000 ayat. Masing-masing surat saat ini telah diberi nama dan pada ayatpun telah diberi tanda. Penamaan surat dalam Alquran menurut pendapat jumhur adalah tauqifi dan ijtihadi. Hal ini disebabkan karena beberapa surat punya banyak nama yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena orang arab cenderung menamai surat dalam Alquran dengan hal-hal yang menurut mereka unik, langka, dan khas dalam surat tersebut. Sedangkan pemisah antar ayat sudah jelas merupakan ijtihadi. Masing-masing ayat dipisah berdasarkan huruf yang sama, huruf yang berdekatan, atau persamaan wazan(timbangan lafaz).

Kesimpulan

Sejarah kodifikasi Alquran merupakan perihal yang amat besar bagi umat islam di seluruh dunia. Alquran sebagai pegangan hidup umat muslim yang berisikan wahyu-wahyu ilahi tentu harus terjaga keasliannya dari perubahan oleh tangan-tangan manusia. Alquran yang ada pada kita saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang para ulama-ulama kita terdahulu. Dengan penuh kehati-hatian mereka mencari cara bagaimana Alquran dapat dijaga pada masa-masa yang akan datang. Tak bisa dipungkiri, bertambahnya usia bumi akan berdampak pada lemahnya manusia dari satu masa ke masa. Para sahabat yang dulunya mempunyai hafalan yang amat kuat tentu tak bisa dibandingkan dengan kita pada hari ini. Meluasnya agama islam yang telah melampaui negeri arab juga melatar-belakangi kodifikasi Alquran ini.

Kodifikasi Alquran merupakan hasil jerih payah para ulama. Penyempurnaan penulisan Alquran bukanlah hal mudah, berbagai penolakan dan komentar menghiasi lembaran sejarah ini. Namun seiring berjalannya waktu, Allah SWT melunakkan hati para ulama-ulama kita terdahulu dan memberikan kepada mereka nalar yang luas biasa sehingga mereka menerima kodifikasi ini guna menyokong islam untuk seluruh alam. Perihal kodifikasi Alquran telah menjadi ijtima’ ulama yang artinya ulama telah sepakat bahwa kodifikasi Alquran boleh dan Alquran kita pada hati ini terjaga keabsahannya. Nabi bersabda:

لا تجتمع أمتي على ضلالة

Artinya: “Umatku tidak akan bersepakat dalam keburukan”.

Sebagai generasi penerus agama, sudah semestinya kita menjaga Alquran ini. Penjagaan terhadap Alquran bukan perihal remeh-temeh dan tidak penting. Penjagaan Alquran merupakan perkara yang besar karena menyangkut keberlangsungan dakwah terhadap umat di kemudian hari. Karena itu, tak ada alasan lain bagi kita untuk tidak giat dalam memahami Alquran. Dengan memahami Alquran maka Alquran akan terus terjaga dari masa ke masa.

______________________

*ditulis oleh Fikran Aulia Afsya, Mahasiswa Tingkat 2 Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Cairo.


Komentar