Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Pesta (Tanda) Tanya

  I lustrasi adalah karya penulis “Kita memang harus berubah,   namun perhatikan arah,  bukan kecepatan.” –Paulo Coelho Oleh  Hikmal Alif                                                                 Di pagi hari yang cerah, 6 Agustus 1945, pesawat Enola Gay menjatuhkan bom atom yang diberi nama  Little Boy,  memporak-porandakan isi kota Hiroshima. Dalam 10 detik, ledakan menyebar dengan cepat dan menyapu seluruh kota. Sejarah mencatat 140.000 nyawa hilang sampai akhir Desember. Kota itu menjadi simbol kehancuran dan warga Hiroshima mengalami trauma yang mendalam. Orang-orang bertanya dan meragukan Hiroshima akan bangkit dari bencana, namun ia berhias secara perlahan dan terarah hingga menjadi kota modern. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kehancuran bukan...

Shanghai: Sate Domba di Ruang Tunggu

Yuyuan Old Street Daging domba itu akan melewati kerongkonganku dan berselancar di lambung, pada waktu yang memang ditetapkan-Nya Oleh  Hikmal Alif S hanghai salah satu kota terbesar di dataran Tiongkok. Berperang melawan waktu dan menebasnya hingga menjadi emas, ia tumbuh menjadi kota yang maju dan menjadi pompa keuangan dataran Tiongkok. Dua puluh tiga Juli 2025: jadwal penerbanganku ke Indonesia. Kota Shanghai menjadi tempat transit penerbangan kali ini. Shikumen di gang Tianzifang, The Bund sebagai simbol bangkitnya Shanghai di era modern, dan Yuyuan Garden sebagai lambang cinta yang indah, semua itu mengguncang naluri pertualanganku. Full ammu sammi membuka rangkaian perjalanan hari ini. Roti isy mampu membuat tubuh malas berdiri karena kekenyangan. Isy – yang berarti kehidupan – semoga bisa membuat hari dan perjalananku nanti menjadi hidup dan berwarna. Jarum jam menunjukkan pukul 09.30, matahari sudah setinggi tombak, cahayanya tajam dan runcing. ...

Cinta yang Tak Biasa

Waktu baca : 8 menit   Setoran Qur'an pada Syekh Ali Irham di Mirotsul Habib    Sejak pertama kali memasuki penjara suci tanpa besi ini, aku memutuskan untuk jatuh cinta. Tapi ternyata, jatuh cinta tak semudah yang dibayangkan. Ia bukan sekadar perasaan yang datang tiba-tiba, bukan sekadar bunga-bunga yang mekar dalam hati. Ia butuh perjuangan, keteguhan, dan kesiapan untuk bertahan dalam setiap ujian.    Berulang kali aku mencoba memantapkan hati, namun keraguan selalu datang mengetuk. Banyak keresahan muncul saat memulai perjalanan ini. Akal selalu menghadirkan sejuta alasan untuk menyerah, tetapi hati diam-diam menyimpan pegangan kata-kata yang menguatkan dan keyakinan yang menenangkan. Jangan pernah mengaku cinta jika masih penuh alasan dan keluhan. Cinta sejati bukan sekadar diucapkan, tapi diperjuangkan. Dan cinta kali ini, bukan cinta biasa. Ini adalah cinta yang lebih berharga, cinta yang lebih mulia yaitu jatuh cinta kepada Kalam Ilahi. Ia bukan sekada...

Jangan Jadi Mesin, Jadilah Pemimpin!

By : @galau_abiez   Kita hidup di zaman yang menganggap sekolah sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Sejak kecil, kita dijejali pelajaran, dipaksa menghafal teori, dan disuguhkan rumus-rumus yang entah kapan akan berguna. Namun, siapa yang mengajari kita cara menghadapi kehidupan yang sebenarnya? Setelah belasan tahun belajar, banyak yang justru kebingungan. Mau ke mana? Mau jadi apa? Yang terjadi, kita hanya sibuk melamar pekerjaan, berusaha masuk ke dalam sistem yang sudah pakem, tanpa menyadari bahwa kita tidak diciptakan sekadar untuk menjadi bagian dari sistem, tetapi untuk menciptakan perubahan. Padahal, Allah telah menetapkan peran kita dengan jelas: وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah: 30) Khalifah! Bukan buruh, bukan alat, bukan sekadar roda kecil dalam mesin besar. Kita diciptakan sebagai pemimpin, sebag...

Maidaturrahman; Hidangan Tuhan Yang Tak Pernah Usai

Oleh : Hikmal Alif Kota Kairo, Mesir saat menjelang maghrib. “Standar moral Mesir dan Indonesia itu berbeda. Kebaikan bagi orang Indonesia adalah kesopanan, sementara bagi orang Mesir adalah keyakinan.” -Benny Arnas  Gedung-gedung di kanan-kiri jalan, menyerupai kubu beton tanpa cat, bentuk gedung yang tak seimbang serta jauh dari kata simetris, rerumputan yang tumbuh di sela rumah dan bangunan, seperti ingin menyesuaikan lingkungan yang monokrom, meranggas cokelat dan berselimut debu.  Lentera-lentera yang bergantungan di depan rumah yang terbuat dari logam dan kaca berwarna, memiliki berbagai bentuk dan ukuran. Warga Mesir berbondong-bondong meminangnya. Fanous siap menerangi malam-malam Ramadan di Mesir. Tradisi dari Dinasti Fatimiyah itu masih eksis sampai sekarang. Tak ingin kalah menyambut bulan suci Ramadan, Zinah bewarna-warni ikut memeriahkan, memanjang di antara rumah-rumah warga. Mikrobus, mikrolet, ootobus; murottal Al-Qur’an berirama!! Di sore hari bulan muda n...

MENYERAHLAH dan BACA SAJA

Cipt, F.A.A NAVIS Kadang aku malu dengan seluruh bekas lukaku mereka seperti bersorak “ HANYA UNTUK INI KAH KAMI DI SINI?!“ “ SERIUS HANYA SAMPAI SINI?!” “ BEGINI SAJA?!, SAMPAH SEKALI” Luka-luka itu menyorakiku seperti penonton yang meminta uang kembali, Seakan tak pantas aku mendapatkan uang tiket mereka, Tapi mereka benar, Waktu yang mereka korbankan untuk muncul di seluruh tubuhku, Yang dulu aku rutuki segala kehadiran mereka, Terasa begitu mahal jika hanya untuk sampai sini Aku harus melangkah lebih jauh lagi Bekas bekas luka ini berhak mendapatkan aku yang lebih baik Tapi bagaimanalah ini? Kini aku takut untuk terluka lagi Di bawah sinar lampu baru,2024

Galodo (12 Mei 2024)

GALODO Oleh: Dja Musa Aku : Dinda, aku rindu ramah sapamu. Dinda : (Diam, tidak ada jawaban). Aku : Dinda, aku rindu mata kucing itu. Dinda : (Mendecis kesal). Aku : Engkau lebih cantik dari noni-noni Belanda tahun 1918. Dinda : Benarkah? Aku : Tentu! Bahkan HAMKA ikut goreskan namamu pada dinding Kapal Vander Wick. Dinda : Bukankah kapal itu tenggelam? Aku : Hm...Iya, maksudku bukan... Dinda : Cukup! Biarkan aku menyelesaikan marah. Aku : Tapi laharmu terlalu dingin! Berapa hati lagi yang akan engkau sakiti? Dinda : Diam! Aku hanya mengikuti sunnatullah! Aku : Bisakah engkau hentikan ini sekarang? Dinda : Jika memang cinta, nikmati juga marahku! Aku : Tapi! Dinda : Apa?! Mau jawab apa lagi?! Aku : Enggak apa-apa. Cepatlah membaik, Dinda.

Jadi yang Terbaik (Puisi)

Jadi yang Terbaik Oleh : Awan   Amal tak cukup diacungkan tuk menggapai rahmat-Nya Sholat yang tak seberapa tak cukup membayar surga-Nya Puasa yang tak seberapa tak cukup menahan panasnya neraka Zakat yang tak seberapa terlalu sedikit Tuk layak meminum air telaga rasul-Nya   Sholawat terus disenandungkan dengan penuh harap Harapan agar sang nabi sudi memandangku Di bawah terik hari perhitungan Matahari pada hari itu berada sejengkal di atas kepala Yang tidak beruntung akan tenggelam di lautan keringat dosa   Kehadiranku di hadapan majelis para ulama dipenuhi semampu diri Agar dipandang juga wajah sang pendosa ini Wajah penuh harap tuk mendapat doa Yang mengiringiku ke dalam nikmat surga Usaha menjadi anak terbaik bagi orang tua Mudah-mudahan menjadi wasilah menggapai ridho-Nya   Usaha menjadi anggota saudara yang terbaik Mudah-mudahan diri ini dapat diingat di hari nanti Tatkala mereka bersenda gurau di surga Mengin...