Muhammad Yamin: Putra Minang Pengagum Gajah Mada, Romantisme Sejarah Nusantara dalam Nafas Nasionalisme
Oleh:
Muhammad Ichsan Zaini
Bangsa
Indonesia memiliki anak-anaknya yang selalu punya cara dalam menegakkan
marwahnya. Muhammad Yamin, selain menjadi sahabat pikiran bagi Bung Karno
kelak, adalah pengagum sejarah Nusantara masa lalu. Ia menjadikan romantisme
masa itu sebagai modal dalam menanamkan upaya persatuan nasional Indonesia,
yang ia sebut sebagai bangsa kesatuan ke-III.
Biografi Singkat
Muhammad Yamin dilahirkan di Talawi, Sawahlunto, pada 23 Agustus 1903. Ia merupakan putra dari pasangan Usman gelar Bagindo Khatib dan Siti Saadah, yang masing-masing berasal dari Sawahlunto dan Padang Panjang. Ayahnya adalah seorang mantri kopi pada zaman kolonial Belanda yang bertugas mengurus kebun kopi dan menjaga gudang-gudang kopi. Ia memiliki enam belas anak dari lima istri, yang hampir keseluruhannya kelak menjadi intelektual berpengaruh. Saudara-saudara Yamin antara lain Muhammad Yaman, seorang pendidik; Djamaluddin Adinegoro, seorang wartawan terkemuka; dan Ramana Usman, pelopor korps diplomatik Indonesia. Selain itu, sepupunya, Muhammad Amir, juga merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Muhammad Yamin menikah dengan perempuan Jawa bernama Raden Ajeng Sundari Merto Amodjo pada tahun 1934. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Dang Rahadian Sinayangsih Yamin. Muhammad Yamin meninggal di Jakarta pada 17 Oktober 1962 dan dikebumikan di Talawi, Sawahlunto. Mengenai cerita wafatnya Yamin, Irfan Hamka dalam bukunya Ayah menceritakan bahwa ketika Yamin dalam keadaan sekarat, ia meminta agar Hamka datang menemaninya sampai ke liang lahat di Talawi.
Hal ini agak mengherankan karena Yamin dan Hamka, meskipun keduanya berasal dari Ranah Minang, adalah tokoh yang saling berseberangan. Bahkan Yamin terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka terhadap Hamka karena perbedaan ideologi yang hendak diusung. Namun menjelang akhir hidupnya, Chaerul Saleh, salah satu menteri pada masa pemerintahan Soeharto, datang menemui Buya Hamka dengan pesan agar beliau bersedia menemani Yamin hingga dikebumikan di samping makam ayahnya di Talawi. Beliau sepenuhnya khawatir terhadap penolakan masyarakat terhadap hal tersebut, mengingat Yamin adalah salah satu tokoh politik nasional yang mengutuk PRRI di Sumatera.
Pendidikan dan Pergerakan
Yamin ketika menjalani masa pendidikan diasuh oleh saudaranya, Muhammad Yaman, yang merupakan seorang guru di Padang Panjang. Ketika masih kecil, kedua orang tuanya telah meninggal dunia terlebih dahulu. Hal ini berdampak terhadap proses pendidikannya yang berliku-liku. Namun sejatinya, Yamin tumbuh di keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas, sehingga ia memiliki semangat dan keteguhan dalam memperjuangkan pendidikannya.
Pendidikan Yamin bermula di Sekolah Bumi Putra Angka II. Masa pendidikan ini berlangsung lima tahun dan tidak mengajarkan bahasa Belanda. Kemudian Yamin pindah sekolah ke H.I.S. di Lahat, dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Ia membutuhkan waktu sembilan tahun untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. Hal ini terjadi karena penyesuaian sistem pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada masa itu. Namun hal tersebut justru menguntungkan Yamin, sebab ia dapat belajar bahasa Melayu dan bahasa Belanda sejak pendidikan dasar.
Kemudian Yamin melanjutkan pendidikannya dengan berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya, mulai dari Sekolah Dokter Hewan dan Sekolah Pertanian, yang keduanya berada di Bogor, hingga A.M.S. di Surakarta. Di sekolah terakhir inilah Yamin belajar banyak tentang sastra dan budaya Jawa, serta pelajaran bahasa. Pada akhirnya, Muhammad Yamin menamatkan pendidikannya pada usia 24 tahun, sementara lazimnya pelajar tamat di usia 21 tahun saat itu. Kemudian Yamin melanjutkan pendidikannya di R.H.S., perguruan tinggi hukum pertama di Hindia Belanda. Selama lima tahun masa belajar, ia sah mendapatkan gelar Meester in de rechten.
Selain menempuh pendidikan formal, Yamin juga aktif dalam berorganisasi dan gerakan pemuda. Saat masih di Sumatera, ia sudah aktif dalam Jong Sumatranen Bond untuk membina pemahaman persatuan dan nasionalisme, meskipun masih terbatas pada wilayah Sumatera. Organisasi tersebut diprakarsai oleh Nazir Dt. Pamuncak dan sebelumnya sudah berdiri di Jakarta pada tahun 1917. Setelah belajar di pulau Jawa, kiprah Yamin dalam organisasi kian bertambah. Pada tahun 1926–1928, menjelang masa akhir pendidikannya di A.M.S. dan awal pendidikannya di R.H.S., Yamin menjadi ketua Jong Sumateranen Bond. Selain itu, ia juga tergabung dalam PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia).
Adik Muhammad Yaman ini juga terlibat dalam Kongres Pemuda I tahun 1926. Meski belum tamat A.M.S. dan masih berusia 23 tahun, Yamin sudah menunjukkan tajinya dalam kongres tersebut. Ia memiliki gagasan agar bahasa Melayu—yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia—diadopsi sebagai bahasa persatuan Indonesia. Sementara pada Kongres Pemuda II tahun 1928, Yamin terpilih menjadi sekretaris panitia ketika berusia 25 tahun. Yamin muda memiliki andil cukup besar dalam kongres tersebut. Selain memberikan pidato, ia juga menerjemahkan beberapa pidato yang masih berbahasa Belanda ke bahasa Melayu. Ia membawakan pidato di depan peserta kongres dengan judul “Persatuan Kebangsaan Indonesia.”
Pemikiran Muhammad Yamin
Dalam pergulatan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Yamin adalah salah satu tokoh yang menghunuskan pedang pemikiran terhadap penjajah. Melihat latar belakang kehidupannya sejak kanak-kanak hingga menjadi salah satu poros perjuangan, ia selalu membangun pikiran-pikiran tentang upaya persatuan nasional. Pendidikan dan pergerakan dalam organisasi yang ia jalani menyiapkan seorang Muhammad Yamin sebagai sosok yang memiliki gagasan hebat tentang masa depan bangsa.
Ketika memulai pergerakan di Jong Sumatranen Bond di Sumatera, Yamin telah memiliki semangat nasionalisme, meskipun terbatas pada wilayah Sumatera. Hal tersebut secara gamblang tertera dalam sajaknya berjudul Andalas Tanah Airku. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Yamin belum bersentuhan dengan kehidupan luar Sumatera, ditambah guru-guru sejarahnya menanamkan semboyan “Maluku masa lalu, Jawa masa sekarang, dan Sumatra masa yang akan datang.” Namun, pada Lustrum I Jong Sumatranen Bond, Yamin sudah memikirkan dan berjuang untuk persatuan Indonesia.
Yamin menggunakan faktor-faktor ilmu sejarah, ilmu kebudayaan, dan ilmu geopolitik untuk menyusun paham kebangsaan. Ia mengemukakan bahwa bangsa Indonesia sebelum kedatangan Belanda sudah memiliki peradaban yang bisa dikatakan maju, namun mengalami kemunduran dewasa ini sehingga perlu adanya usaha untuk membangun kembali. Ia meyakini bahwa bangsa Indonesia sejak dulu kala adalah sebuah kesatuan dalam lintasan sejarah.
Persatuan sejarah mempunyai pengaruh besar terhadap persatuan bangsa. Yamin mendasarkan pendapatnya pada gagasan bahwa nation adalah semangat persatuan yang terletak pada kenangan masa lampau serta kemauan untuk maju dan menghargai pusaka masa lalu di masa sekarang. Penghayatan Yamin terhadap sejarah Nusantara memberinya inspirasi dalam mengemukakan ide-ide persatuan, seperti bahasa persatuan dan pandangan terhadap posisi hukum adat terhadap hukum nasional.
Bisa dikatakan Muhammad Yamin adalah pembela tokoh-tokoh sejarah yang bersinggungan dengan kolonial. Mereka kerap kali diframing secara kurang elok sebagai tokoh berjiwa rendah, liar, dan buas. Dalam pidatonya pada Kongres Pemuda II, Yamin menggambarkan bangsa Indonesia telah dilucuti marwahnya oleh penjajah, dimulai dari bangku sekolah. Mereka mengajarkan anak-anak Indonesia bahwa mereka adalah bangsa yang tidak punya pahlawan. Yamin menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus mengenal pahlawan-pahlawan mereka, seperti Teuku Umar, Sultan Agung, dan Imam Bonjol.
Banyak sumbangan diberikan oleh Yamin terhadap identitas sejarah nasional. Salah satu contohnya adalah bukunya berjudul 6.000 Tahun Sang Merah Putih. Ia dengan lantang menyatakan bahwa merah dan putih adalah warna yang dihormati sejak Indonesia purba, sebagai warna matahari dan bulan. Penghormatan tersebut dikenal dengan kultus Adityacandra. Selain itu, Yamin terobsesi dengan kegemilangan Majapahit dalam mempersatukan Nusantara, begitu pula dengan Patih Gajah Mada. Ia bahkan menulis buku tentang Gajah Mada.
Ia merasa perlu adanya simbol untuk mendorong persatuan nasional Indonesia—yang diklaim sebagai negara kebangsaan ketiga—sehingga mendorongnya untuk memvisualisasikan wajah Gajah Mada. Konon, banyak yang berspekulasi bahwa wajah tersebut menyerupai Yamin sendiri. Bisa dikatakan bahwa geopolitik Gajah Mada menurut Yamin semestinya menjadi geopolitik Indonesia.
Dari sekian banyak sumbangsih Yamin, filsafat sejarah yang ia kembangkan merupakan pemikiran berharga dalam penulisan sejarah Indonesia. Ia berpendapat bahwa penulisan sejarah Indonesia perlu berlandaskan aliran pemikiran tertentu. Filsafat sejarah tersebut dikenal dengan istilah Catur Sila Khalduniah, yang terdiri dari empat poin: kebenaran, sejarah Indonesia (sebagai objek kajian), kebangsaan Indonesia, dan tafsiran sintesis.
Muhammad Yamin, dari sekian banyak tokoh yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dapat dikatakan memiliki caranya sendiri dalam upaya tersebut. Ia membela tokoh-tokoh sejarah, menegaskan merah putih sebagai bagian dari sejarah masa lampau, dan membangun identitas nasional melalui warna sejarah Nusantara, meskipun beberapa rekannya mengenangnya sebagai sosok yang licik.
Editor : Hikmal Alif
Daftar Pustaka
Kutoyo,
S. (1981). Prof. H. Muhammad Yamin, S.H. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Mahardika,
M. D. (2025). Relevansi Pemikiran Ibnu Khaldun dalam Rumusan Filsafat
Sejarah Nasional Muhammad Yamin. Refleksi, 19–36.
Mojokdotco.
(2022, November 4). Muhammad Yamin: Gadjah Mada dari Sawahlunto. Diambil
kembali dari YouTube: https://youtu.be/iDFzCZDLPow?si=_vjeCZeK8SvII7ms

Komentar
Posting Komentar