Langsung ke konten utama

Shanghai: Sate Domba di Ruang Tunggu


Yuyuan Old Street

Daging domba itu akan melewati kerongkonganku dan berselancar di lambung, pada waktu yang memang ditetapkan-Nya


Oleh Hikmal Alif

S

hanghai salah satu kota terbesar di dataran Tiongkok. Berperang melawan waktu dan menebasnya hingga menjadi emas, ia tumbuh menjadi kota yang maju dan menjadi pompa keuangan dataran Tiongkok.

Dua puluh tiga Juli 2025: jadwal penerbanganku ke Indonesia. Kota Shanghai menjadi tempat transit penerbangan kali ini. Shikumen di gang Tianzifang, The Bund sebagai simbol bangkitnya Shanghai di era modern, dan Yuyuan Garden sebagai lambang cinta yang indah, semua itu mengguncang naluri pertualanganku.

Full ammu sammi membuka rangkaian perjalanan hari ini. Roti isy mampu membuat tubuh malas berdiri karena kekenyangan. Isy – yang berarti kehidupan – semoga bisa membuat hari dan perjalananku nanti menjadi hidup dan berwarna.

Jarum jam menunjukkan pukul 09.30, matahari sudah setinggi tombak, cahayanya tajam dan runcing. Membuat siapa saja yang terkena sinarnya seperti tertusuk-tusuk mentari Kairo di musim panas.

Aku, ditemani beberapa teman, berjalan menuju Mustasyfa Husein – tempat sakral bagi para mahasiswa Mesir yang ingin berkelana meninggalkan kota Kairo. Karena di sini kami biasanya memesan dan menunggu angkutan untuk pergi ke bandara.

Pukul 10.00 pagi, didi – transportasi online – membawaku sejengkal lebih dekat mengetuk Kota Shanghai.

Di Terminal 3 Bandara Internasional Kairo lane 3, tertulis penerbangan menuju Shanghai. Aku bersiap-siap untuk check-in.

Dii syantoh ‘ala thull ilaa andunisia, shoh?” tanyaku memastikan koper bagasi langsung menuju Jakarta alias tidak perlu klaim di Shanghai.

Aywahh, khudh fii andunisia,” terang petugas sambil memberikan dua boarding pass.

Boarding pass sudah di tangan, aku kembali melihat itinerary Shanghai nantinya. Rute perjalanan yang sudah kubuat dan riset selama satu bulan lebih sebelum flight. Mulai dari cara mendapatkan visa gratis sampai kembali lagi ke bandara. Semuanya harus benar-benar dibuat dan diriset seapik mungkin. Karena dari yang kubaca, penduduk China sangat sedikit yang mau beranjak dari bahasa ibu. Negara yang sangat cashless – transaksi serba aplikasi – mulai dari pembayaran transportasi, beli makan, masuk tempat wisata, bahkan di kotak infak pun ada QR Alipay. Naluriku terguncang sebagai pelancong. Rasanya sangat seru untuk dicoba. Pengalaman, pikirku, tidak bisa hanya didapatkan dari cerita orang lain. Kita harus merasakannya sendiri.

Aku berjalan menuju imigrasi. Setelah paspor dicap exit Kairo, aku mencari-cari lokasi VIP lounge, fasilitas gratis yang kudapatkan dari aplikasi Trip.com.

“Welcome,” ucap petugas depan pintu lounge ramah.

Aku langsung disambut segala macam aneka jenis kue, makanan, dan minuman. Makan (siang) di lounge sampai kenyang namun tetap menjaga etika – tidak mengambil berlebihan dan mubazir. Jarum jam menunjukkan pukul 01.00. Aku siapsiap menuju gate setelah jamak takdim salat Zuhur dan Asar. Gate G2: Shanghai. Setelah pemeriksaan, aku masuk ke dalam pesawat yang akan membawaku ke mimpi indah itu.

Di dalam pesawat, aku membayangkan indahnya lari pagi di kota Shanghai, melihat bangunan klasik khas Tiongkok (Dinasti Ming) di Yuyuan Garden, atau meminum teh khas ala Tiongkok. Namun, aku menahan imajinasi itu agar tidak berlebihan menggeliat di kepalaku, supaya tak berubah menjadi bisa dan luka jika kenyataan tak sesuai ekspektasi. Marka setiap orang berbeda, bisikku pada diri sendiri. Hargai, jalani, tutup lidah berbisa dan mulut bengismu.

Di sela lamunanku, aku teringat ketika orang banyak bertanya sambil mengejek, untuk apa dan mengapa menyusahkan dan melelahkan diri sendiri? Berlari, misalnya. Senyuman selalu jadi senjata jawabanku. Setiap orang memiliki jalan hidup tersendiri, pikirku. Perbedaan justru membuat siklus kehidupan dan alam semesta menjadi seimbang. Memaksakan persamaan malah menimbulkan luka bagi alam. Kita diciptakan unggul dan sempurna di jalan masing-masing. Namun, tidak ada larangan untuk mencoba di luar kemampuan. Bahkan menolaknya hanya akan membuat naluri tak berkembang. Kita hanya perlu menghargai, menjalani, dan menerima masukan. Tuhan menciptakan manusia sebaik mungkin, Ia tahu yang terbaik. Hanya kesokpahaman manusia yang sering mengubah hal baik menjadi keruh.

Imajinasi dan perenungan itu membuat waktu tempuh 10 jam terasa singkat. Pesawat MU224 landing dengan selamat di Shanghai. Aku mengecek dokumen perjalanan.

“No English,” jawab salah satu petugas bandara ketika kutanya tentang TWOV

(transit without visa).

Aku mengeluarkan ponsel pintar, membuka Google Translate, lalu diarahkan untuk langsung ke imigrasi. Di sana, aku mengisi data di kertas arrival card dan departure sambil berdoa pasporku dicap.

Antrian imigrasi lumayan panjang. Jantungku berdegup bersaing dengan waktu. Tibalah giliranku.

“Pertama kali ke China?” tanya petugas ramah itu.

“Iya, baru pertama kali,” jawabku dalam bahasa Inggris sambil menunjukkan hasil Google Translate berisi kalimat dalam Mandarin, “Saya ingin keluar bandara menuju The Bund dan Taman Yu.”

Petugas itu menatap wajahku. Mungkin karena rambut gondrong membuat fotoku di paspor tampak berbeda.

“Okey, tunggu sebentar. Kami akan mencetak visa untuk kamu,” katanya sambil tersenyum.

Pasporku berpindah ke petugas lain. Aku mengikutinya, tak jauh dari konter imigrasi. Alhamdulillah, tak lama kemudian pasporku sudah distempel visa gratis China, berlaku 24 jam.

Waktu menunjukkan pukul 06.45. Tanpa membuang waktu, aku langsung menuju Maglev, transportasi publik China yang memegang gelas yang tercepat di dunia. Langkah kakiku mengebut mengikuti petunjuk ke Maglev, karena kereta pertama berangkat jam 07.02. Maglev Shanghai mulai beroperasi dari jam 07.02 pagi sampai 21.45 malam. Setelah petugas men-scan aplikasi Alipay-ku, tiket otomatis keluar dari mesin. Aku melewati pemeriksaan dan segera masuk kereta.

Kulihat kereta Maglev mengambang di atas rel. Tidak ada roda. Pertemuan dua medan magnet membuatnya menembus jantung Shanghai dengan kecepatan 300 km/jam. Hanya delapan menit menempuh jarak 40 km dari bandara ke pusat kota.

Aku turun di Stasiun Longyang. Tujuan pertamaku adalah Tianzifang, perumahan warga lokal yang disulap menjadi kawasan belanja dan kerajinan unik. Jemuran warga berpadu dengan estetika Shikumen, gerbang batu khas di sana. Perpaduan antara timur dan barat menjadi ciri khas bangunan klasik Shanghai ini.

Aku segera menuju Line 2 metro di Stasiun Longyang. Ketika memasuki area dalam metro Shanghai, aku sedikit kaget dengan keramaiannya. Orang-orang ramai berlalulalang. Suara tapak kaki saling menghajar di telingaku. Mereka berlarian bersaing dengan waktu, seolah ingin melahapnya dan mengumumkan: setiap detiknya adalah emas. Berleha hanya akan menimbun harta karunmu sendiri, gumamku, mengingatkan diri untuk tetap bergerak cepat.

Aku sampai di gerbang jalanan Tianzifang. Rata-rata bangunannya dua tingkat.

Berbagai toko makanan, suvenir, dan bar menyatu dengan bangunan klasik di gang ini. Hiasan khas Tiongkok membuatnya terlihat manis dan menyejukkan umur bangunan tua ini.

Aku menelusuri jalan sambil berlari menuju The Bund – menara simbol kemajuan dan modernitas Shanghai. Di tengah jalan, saat berlari, aku melihat minimarket yang menjual Pocari Sweat, minuman yang sudah lama tak menyentuh kerongkonganku. Lagi-lagi di sini, Alipay menjadi kunci. Negara cashless ini sangat jarang menerima uang tunai.

Aku berlari sambil menatap Amap – aplikasi peta China. Lima kilometer hingga The Bund kutempuh di bawah terik matahari, keringat sebesar biji jagung bergantian keluar dari tubuh. Lelah, tapi bahagia. Terkadang cara kita mendapatkan kebahagiaan sulit dipahami orang lain. Lakukan saja apa yang membuatmu bahagia, batinku, meneguhkan langkah.

Aku sampai di The Bund. Menara dan kawanan bangunan modern itu dipisahkan oleh Sungai Huangpu. Sungai yang mengaliri Shanghai, menjadi saksi bangkit dan jatuhnya kota ini. Ia mengalir tanpa bercerita, namun seperti mengumumkan: jatuh itu sakit, tapi bangkit dan kejayaan akan selalu menyertai.

Huangpu menjadi jiwa bagi bangunan klasik Tiongkok dan gedung-gedung pencakar langit. Setelah cukup beristirahat dan menikmati aliran air sungai itu, aku berjalan menuju Yuyuan Garden. Sebuah taman yang dibangun pada zaman Dinasti Ming oleh seorang pejabat untuk menemani masa tua ayahnya. Bukan hanya sekadar taman, pikirku sambil melangkah, ini adalah bukti cinta seorang anak kepada ayahnya.

Sebelum memasuki Yu Garden, aku melewati Yuyuan Old Street. Bangunan di sini sangat khas ala Tiongkok. Kiri-kanan ramai orang berjualan aneka suvenir. Lampion merah bergantungan di langit-langit bangunan, melambangkan kebahagiaan.

Aku memasuki kawasan Yu Garden, mengelilingi dan melihat bangunan khas Tiongkok. Setiap sudutnya terasa hidup, seperti mengatakan pada pengunjung: inilah bukti cinta yang tulus, ia akan selalu hidup dan tak redup. Cinta yang tulus akan selalu hidup, aku mengulang kalimat itu dalam hati, menatap detail bangunan yang seperti menolak tua.

Banyak bangunan lebih modern dan eksotis dari taman ini. Namun, ia selalu ramai dikunjungi dan tak ditinggalkan. Seakan berbisik: sebanyak apa pun keadaan memaksamu meninggalkan, cinta akan selalu mekar cukup dengan satu alasan.

Tujuan selanjutnya adalah Masjid Fuyuo. Kulihat peta, lokasinya tak jauh dari Yu Garden. Namun, di akhir kunjungan baterai ponselku habis. Aku tidak hafal jalan ke sana. Di sini, ponsel mati sama dengan jiwa terbunuh. Orang-orang jarang bisa berbahasa lain selain bahasa ibu, sedangkan pembayaran transportasi, makanan, dan minuman semua lewat aplikasi.

Aku memutuskan berjalan tanpa melihat peta, mengandalkan ingatan dan naluri petualang dalam membaca denah. Sekitar 15 menit aku tidak menemukan apa yang kucari.

“Permisi, apakah kamu tahu Fuyuo Road?” tanyaku pada salah satu petugas di Yuyuan Old Street dalam bahasa Inggris.

Seperti dugaanku, ia menjawab dengan bahasa Mandarin tulen. Aku katakan tak bisa Mandarin dan dia menggaruk kepala. Akhirnya isyarat menjadi solusi terakhir. Ia mengisyaratkan lurus, belok ke kiri. Aku ragu maksudku sampai kepadanya.

Setelah kembali menelusuri jalanan sekitar, aku melihat papan tanda bertuliskan Fuyuo Road. Tak jauh dari situ, sebuah kubah hijau tampak di antara toko makanan di sekelilingnya. Aku mempercepat langkah. Di depan bangunan sejajar dengan kubah hijau itu ada tulisan Masjid Fuyuo dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan Arab.

Seorang bapak berpeci putih berjaga di pintu masuk. Aku memberi isyarat takbir dan dia langsung paham. Ia berjalan sambil bicara dalam Mandarin, menunjuk pintu masuk masjid, lalu memberikan isyarat seperti orang berwudu. Aku menggeleng. Ia menunjuk bangunan lain, tempat wudu masjid.

Saat memasuki masjid, aku sedikit kaget. Di pintu masuk ada dua kotak amal, keduanya dengan kode QR Alipay dan WeChat. Setelah salat, aku bersiap pergi. Namun, seorang bapak menatapku lalu mengucapkan salam. Kami bercerita dengan bantuan aplikasi penerjemahan sekitar 15 menit.

“Segera pergi ke bandara, cepat, cepat!” katanya setelah aku bilang ada penerbangan lanjutan.

Aku berpikir ulang: kembali ke bandara atau pergi ke tujuan akhir – makan siang dengan sate domba yang konon terenak di Shanghai dan menyeruput teh herbal khas Tiongkok. Sebenarnya waktunya pas jika aku tidak terlalu lama di masjid sambil menunggu baterai ponsel menyentuh 50 persen dan ngobrol dengan bapak itu.

Perintahnya terdengar seperti titah Tuhan melalui dirinya. Iya ya, pikirku sambil melangkah menuju metro Stasiun Longyang, dengan waktu yang pas-pasan ini bisa saja ada kejadian kecil yang membuat langkahku terhambat hingga ketinggalan pesawat. Belum lagi jika imigrasi Shanghai ramai.

Tak selalu keinginan tumbuh bersama dengan kepastian, gumamku, menenangkan hati. Pasti ada rasa menolak dan tak terima kenyataan. Namun, kita hanya bisa merencanakan dan berjalan menuju rencana itu. Adapun hasil akhirnya, biarlah Tuhan yang memutuskan. Aku percaya dengan konsep takdir. Mungkin aku belum diizinkan Tuhan mencicipi teh herbal dan daging domba hari ini. Ia tahu yang terbaik dan akan memberikannya di waktu yang tepat.

Mungkin nanti, aku akan kembali ke sini di waktu yang tepat menurut garis takdirNya, batinku di dalam Maglev menuju bandara Shanghai.

Di bandara, aku langsung menuju imigrasi sampai tiba di Gate 139. Aku tak kuasa menahan kantuk karena letih. Tubuh ini perlu dimanjakan. Dalam penantian boarding, aku sempat tertidur dan terbayang sate domba. Namun akhirnya bayangan itu kutepis dengan istighfar. Mungkin itu hanya ilusi yang diciptakan setan untuk terus mempermainkanku.

Di dalam pesawat menuju Jakarta, aku langsung tertidur selama enam jam perjalanan dan hanya bangun ketika jadwal makan tiba.

Di Bandara Soekarno-Hatta, di kedai kopi Bangi Cafe, aku mengetik dan melihat saldo Alipay-ku. Tersisa 65 yuan – yang pas untuk mencicipi sate domba itu. Nanti, bukan hari ini, batinku. Daging domba itu akan melewati kerongkonganku dan berselancar di lambung, pada waktu yang memang ditetapkan-Nya.(*)

Terminal 3 Soekarno-Hatta, 25 Juli 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia di Balik Taqdim dan Ta'khir Musnad dan Musnad Ilaih

Rahasia Dibalik Taqdim dan Ta'khir Musnad dan Musnad Ilaih Berbicara tentang Balaghoh berarti kita sedang membicarakan suatu keilmuan didalam bidang bahasa (khususnya Bahasa Arab), yang mengkaji tentang bagaimana sang penutur bahasa (متكلم) dalam aktifitasnya menuturkan suatu bahasa (ucapan) kepada orang yang diajak berbahasa (مخاطب). Sesuai dengan namanya, Balaghoh yang berarti sampai, ilmu ini mengajarkan bagaimana cara agar sang mutakallim   fasih dalam ber takallum (mengucap) sehingga mutakallim  bisa sampai pada maksud yang hendak ia capai melalui perkataan yang fasih tersebut. Perkataan (كلام) sang  mutakallim tersebut bila kita cermati lebih dalam bukanlah suatu barang yang tunggal, melainkan perkataan tersebut terbentuk dari beberapa unsur/bagian-bagian yang dalam hal ini kita kenal dengan istilah kata yang mana dari sekumpulan kata-kata itu terbentuklah suatu perkataan. Saat mutakallim berbicara, sangatlah tidak mungkin ia menyebutkan (kata)...

10 Hal yang Harus Diketahui Tentang Ilmu Kalam - Bag2

10 Hal yang Harus Diketahui Tentang Ilmu Kalam [Bagian-2] Pada tulisan kali ini kita akan melanjutkan pembahasan seputar sepuluh hal yang harus diketahui tentang ilmu kalam. Sebagiannya sudah kita paparkan pada tulisan sebelumnya ( Bagian 1 ), adapun sebagiannya lagi adalah sebagai berikut : 6. Peletak dasar ( al- Wadhi’ ) 7. Nama ( al-Ism ) 8. Sumber pengambilan ( al-Istimdad ) 9. Hukum mempejari ( alHukm ) 10. Permasalahan yang dibahas ( al-Masail ) Keenam: Peletak Dasar/Penggagas ( al-Wadhi’ ) Penggagas ilmu kalam atau ilmu tauhid sebagai sebuah disiplin ilmu adalah Imam Abu Hasan Ali bin Ismail bin Al-Asy’ari (wafat 324 H) dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi (wafat 333 H). Makna penggagas disini adalah kedua imam ini merupakan orang yang menulis buku-buku yang menjadi rujukan awal untuk masalah tauhid. Kedua imam ini juga dikenal sangat konsen terhadap ilmu tauhid dan membentenginya dari syubhat-syubhat (tuduhan-tuduhan). Adapun tauhid sebagai sebuah k...

Hal yang Membatalkan Puasa dan Konsekuensinya

Apa saja hal-hal yang dapat membatalkan puasamu? Dan apa sanksi yang diwajibkan bagi orang yang puasanya batal? Puasa adalah  salah satu ibadah wajib bagi setiap muslim yang menempati urutan ketiga pada rukun islam setelah syahadat dan shalat. Menahan makan, minum dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari adalah definisi masyhur untuk puasa. Namun apakah dengan menahan tiga hal ini puasa kita akan sehat wal 'afiyat tanpa cacat? Atau adakah beberapa hal lain yang bisa membatalkan puasa kita? Yuk, langsung disimak dua pembahasan dibawah ini. Tentang hal-hal yang membatalkan puasa dan hukuman bagi pelanggarnya. Sekaligus muhasabah diri dengan kembali mengkaji, apakah puasa yang kita lakukan selama ini sudah benar-benar terhindar dari hal-hal tersebut? Check it out...  Agar mencakup dua pembahasan sekaligus, berikut penulis paparkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa beserta hukuman apa yang akan didapatkan oleh pelanggarnya : Wajib men...